Bayangkan seorang bangsawan Eropa di abad ke-17 berjalan memasuki istana dengan sepatu bertumit tinggi, pakaian penuh warna, dan stoking yang menonjolkan bentuk kaki. Pemandangan itu mungkin terasa aneh bagi kita sekarang, karena sepatu hak tinggi lebih sering diasosiasikan dengan perempuan. Namun, sejarah mencatat bahwa alas kaki ini awalnya diciptakan untuk pria, bukan untuk mempercantik diri.
Asal Mula: Kebutuhan Prajurit Berkuda
Jejak sepatu hak tinggi dapat ditelusuri hingga ke Persia. Prajurit berkuda menggunakan sepatu dengan tumit menonjol untuk menjaga kaki tetap terkunci di sanggurdi saat menunggang kuda. Bagi pemanah berkuda, stabilitas adalah kunci karena kedua tangan harus mengendalikan senjata. Tumit sepatu membantu kaki tidak mudah terlepas ketika penunggang mengubah posisi. Fungsi praktis inilah yang kemudian mengubah wajah alas kaki tersebut.
Dari Medan Perang ke Istana
Ketika sepatu bertumit menyebar ke Eropa pada akhir abad ke-16, para bangsawan mengadopsinya bukan karena kebutuhan militer, melainkan karena simbolisme yang melekat padanya. Sepatu itu diasosiasikan dengan kekuatan, keberanian, dan status elite. Semakin tidak praktis sepatu tersebut untuk aktivitas sehari-hari, semakin kuat kesan bahwa pemakainya berasal dari kelas yang tidak perlu bekerja fisik. Inilah awal mula sepatu hak tinggi menjadi penanda sosial.
Louis XIV dan Hak Merah yang Legendaris
Tidak ada tokoh yang lebih terkenal dalam sejarah sepatu hak tinggi selain Raja Louis XIV dari Prancis. Raja yang memerintah pada abad ke-17 ini dikenal gemar mengenakan sepatu berhak tinggi. Tinggi badannya sekitar 163 cm, dan ia menggunakan hak untuk menambah kesan tinggi sekaligus memperkuat citra kekuasaannya. Yang menarik, hak sepatunya berwarna merah dan dihiasi ornamen mewah. Di lingkungan istana Prancis, hak merah menjadi penanda kedekatan atau hak istimewa tertentu. Sepatu pun berubah menjadi bahasa visual untuk memperkirakan posisi sosial seseorang.
Perempuan Mulai Mengadopsi
Pada masa yang sama, perempuan mulai melirik sepatu bertumit. Catherine de' Medici, misalnya, dikenal menggunakan hak tinggi pada abad ke-16 untuk terlihat lebih tinggi dalam pernikahannya dengan Henry II dari Prancis pada 1533. Sepatu perempuan saat itu bahkan bisa sangat ekstrem, seperti chopines—alas kaki berplatform yang populer di Eropa dan tingginya mencapai puluhan sentimeter. Bentuknya yang sangat tinggi membuat penggunanya sulit berjalan dan membutuhkan bantuan. Namun, lambat laun, bentuk sepatu pria dan perempuan mulai berkembang ke arah yang berbeda. Hak pria cenderung lebih tebal dan berkaitan dengan sepatu berkuda atau busana formal, sementara hak perempuan semakin diasosiasikan dengan keanggunan dan daya tarik.
Era Pencerahan dan Great Male Renunciation
Perubahan besar terjadi pada abad ke-18 ketika Eropa memasuki era Pencerahan. Gagasan tentang rasionalitas, kesederhanaan, dan kehidupan praktis mulai memengaruhi cara berpakaian. Mode pria perlahan meninggalkan pakaian yang mencolok. Perhiasan, warna terang, ornamen berlebihan, dan sepatu hak tinggi mulai ditinggalkan. Sebaliknya, pakaian pria menjadi lebih sederhana dan praktis, terutama ketika identitas pria semakin dikaitkan dengan pekerjaan dan aktivitas publik. Perubahan ini kemudian dikenal sebagai Great Male Renunciation, istilah yang diperkenalkan oleh psikolog John Carl Flügel pada 1930.
Sekitar tahun 1740, pria Eropa umumnya telah meninggalkan sepatu hak tinggi sebagai bagian dari fesyen utama. Hak tinggi kemudian semakin kuat dikaitkan dengan perempuan. Yang menarik, perubahan ini bukan karena tubuh pria tiba-tiba tidak cocok memakai hak tinggi. Tidak ada perubahan biologis yang membuat sepatu tersebut mendadak menjadi 'sepatu perempuan'. Yang berubah adalah makna sosialnya.
Pelajaran dari Sejarah
Sejarah sepatu hak tinggi mengajarkan kita bahwa mode tidak pernah lepas dari konteks sosial dan budaya. Apa yang dulu menjadi simbol kekuasaan pria, kini menjadi simbol feminitas. Perubahan ini menunjukkan bahwa makna di balik suatu benda bisa bergeser seiring waktu. Jadi, saat Anda mengenakan sepatu hak tinggi, ingatlah bahwa Anda sedang mengenakan sepotong sejarah yang telah melalui perjalanan panjang.